Label
A. Fatoni
Aang Fatihul Islam
Abu Wafa
Aditya Ardi N
Agus Sulton
Ahmad Anshori
Ahmad Saifullah
Akhmad Fatoni
Akhmad Sofyan Hadi
Andy Sri Wahyudi
Anjrah Lelono Broto
Anom Hamdani
Arief Wibisono
Arifin Ipien
Bahrul Ulum A. Malik
Binhad Nurrohmat
Cak Cax Ndhi Anggorokasih
Cak Kephix
Cak Kephix (Andy Setyo Wibowo)
Candra Adikara Irawan
Catatan
Cucuk Espe
Dadang Ari Murtono
Dahlan Kong
Dian Sukarno
Diskusi
Edi AH Iyubenu
Esai
F Rahardi
Fendi Kachonk
Gunoto Saparie
Heri CS
Hilmi Abedillah
Hotel Yusro Jombang
Iman Budhi Santosa
Inswiardi
Inung AS
Irfan Afifi
Jati Utami
JumArt Boenga Ketjil
Kardono Setyorakhmadi
KBS Sukarmadju
Khoshshol Fairuz
Khosol Fairuz
M. Adlan Ali
M. Faizi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Mufid
Mahfud Ikhwan
Malkan Junaidi
Mansur Muh.
Mansur Muhammad
Mashuri
Moch. Faisol
Mufa Rizal
Muhammad Ali Ridho
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Mukadi
Mukani
Nanda Sukmana
Nurdin Ardi Bramono
Nurel Javissyarqi
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
Pelukis Tarmuzie
Puthut EA
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Resensi
Rialita Fithra Asmara (Rialita Sastra)
Robin Al Kautsar
Roso Titi Sarkoro
Sabrank Suparno
SelaSastra Boenga Ketjil
Seni Ngaji Boenga Ketjil
Setia Naka Andrian
Shofie Agung
Suyitno Ethex
Tamrin Bey
Taufan Tohari
Tim Penulis Mahasiswa Unhas Tebuireng
Tjahyono Widarmanto
Warung Boengaketjil
Yusri Fajar
Yustinus Harris
Zaenudin S
Zainuddin Sugendal
Zen Sugendal
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Februari 2020
Rabu, 12 Februari 2020
DE-GUSDURISASI DAN KOLOR KEKUASAAN
Binhad Nurrohmat
Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah klise yang awam: Gus Dur sohor sebagai figur publik yang lucu, jenaka, dan bisa membuat kawan dan lawan terbahak gembira. Bill Clinton dari negeri kapitalis utama dan Fidel Castro dari negeri komunis kawakan telah berhasil dibuatnya terpingkal. Juga jamaah pengajian di desa-desa terpencil yang mimbarnya beratap kain terpal.
Selasa, 08 Oktober 2019
Saya, Jawa, dan Islam: Pergulatan Diri
Irfan
Afifi *
(Ifada
Initiatives)
Jika boleh mengingat, pertemuan saya dengan
Islam dan Jawa mungkin sejenis pertemuan dengan diri yang menggetarkan. Dan
hingga hari ini saya masih merasakan getaran itu, yang sayangnya bahkan hingga sekarang
ternyata saya masih berada dalam suasana itu.
Sabtu, 28 September 2019
Kamis, 12 September 2019
Kamis, 08 Maret 2018
Sejarah untuk Kita yang Berbuat
Seperti Review Buku "Mak, Ana Asu Mlebu nGomah!"
Anjrah Lelono Broto *
"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka "kemajuan" sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia." (Pramoedya Ananta Toer, House of Glass).
Anjrah Lelono Broto *
"Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka "kemajuan" sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia." (Pramoedya Ananta Toer, House of Glass).
Rabu, 07 Maret 2018
Membaca Sebuah Usaha Kilas Baca “Usaha Mencintai Hujan” Karya R. Giryadi
Anjrah Lelono Broto *
Adalah sebuah keberkahan tiada terkira ketika seorang Andhi Setyo Wibowo (CEO Boenga Ketjil) mengontak saya untuk menjadi pengulas buku kumpulan puisi “Usaha Mencintai Hujan” karya R. Giryadi. Keberkahan tersebut tentu saja mengarah pada sang pengarangnya. Bagi insan seni kebudayaan di Jawa Timur, nama R. Giryadi tentu saja bukanlah nama yang asing. Penyair, dramawan, penulis lakon, cerpenis, jurnalis, dan sederet atribut ciamik lainnya melekat pada diri pria kelahiran Blitar yang sekarang bermukim di Sidoarjo dan akrab dengan panggilan “Lik Gir” ini. Sungguh, adalah sebuah keberkahan karena apalah artinya apa yang saya miliki dibandingkan dengan ilmu serta pengalaman beliau yang telah malang melintang di blantika perkesenian-perkebudayaan di Jawa Timur, Indonesia.
Adalah sebuah keberkahan tiada terkira ketika seorang Andhi Setyo Wibowo (CEO Boenga Ketjil) mengontak saya untuk menjadi pengulas buku kumpulan puisi “Usaha Mencintai Hujan” karya R. Giryadi. Keberkahan tersebut tentu saja mengarah pada sang pengarangnya. Bagi insan seni kebudayaan di Jawa Timur, nama R. Giryadi tentu saja bukanlah nama yang asing. Penyair, dramawan, penulis lakon, cerpenis, jurnalis, dan sederet atribut ciamik lainnya melekat pada diri pria kelahiran Blitar yang sekarang bermukim di Sidoarjo dan akrab dengan panggilan “Lik Gir” ini. Sungguh, adalah sebuah keberkahan karena apalah artinya apa yang saya miliki dibandingkan dengan ilmu serta pengalaman beliau yang telah malang melintang di blantika perkesenian-perkebudayaan di Jawa Timur, Indonesia.
Ruang Penyangkalan Boenga Ketjil
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Beberapa cangkir kopi terhampar di beberapa meja yang tersusun sedemikian rupa dan ada yang diletakkan di semacam dipan seukuran 2x1 meter. Beberapa penganan rebus yang hangat pun terhidang lalu lamat-lamat dingin oleh udara malam di tengah musim kemarau yang tak menentu kemaraunya. Selain itu, beraneka merk rokok mendesak di antara para undangan yang hadir, baik via medium konvensional maupun daring--meski ada satu dua yang tidak merokok. Semua bersepakat bahwa malam itu merupakan malam perjamuan, yang barangkali, agung.
Beberapa cangkir kopi terhampar di beberapa meja yang tersusun sedemikian rupa dan ada yang diletakkan di semacam dipan seukuran 2x1 meter. Beberapa penganan rebus yang hangat pun terhidang lalu lamat-lamat dingin oleh udara malam di tengah musim kemarau yang tak menentu kemaraunya. Selain itu, beraneka merk rokok mendesak di antara para undangan yang hadir, baik via medium konvensional maupun daring--meski ada satu dua yang tidak merokok. Semua bersepakat bahwa malam itu merupakan malam perjamuan, yang barangkali, agung.
RE-DEFINISI JAWA TIMUR, PUISI BISA APA?
Khoshshol Fairuz
DKJT melalui komite sastranya mengadakan sayembara dengan tema karya “Re-definisi Jawa Timur”. Memang secara histori dalam perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur masih didominasi puisi. Jawa Timur masih merupakan provinsi penghasil puisi ketimbang provinsi penghasil prosa. Apakah dengan demikian puisi berhak memiliki porsi untuk me-re-definisi-kan Jawa Timur. Ini pula yang menggugah hati CEO Boenga Ketjil, Andhi Setyo Wibowo, lewat kajian SelaSastra mengundang para pegiat sastra Jatim untuk merumuskan atau lebih tepatnya berdiskusi soal lokalitas, dan tentu saja puisi.
DKJT melalui komite sastranya mengadakan sayembara dengan tema karya “Re-definisi Jawa Timur”. Memang secara histori dalam perkembangan sastra Indonesia di Jawa Timur masih didominasi puisi. Jawa Timur masih merupakan provinsi penghasil puisi ketimbang provinsi penghasil prosa. Apakah dengan demikian puisi berhak memiliki porsi untuk me-re-definisi-kan Jawa Timur. Ini pula yang menggugah hati CEO Boenga Ketjil, Andhi Setyo Wibowo, lewat kajian SelaSastra mengundang para pegiat sastra Jatim untuk merumuskan atau lebih tepatnya berdiskusi soal lokalitas, dan tentu saja puisi.
Catatan Pendek Buku Kumpulan Cerpen “Lorong Purnama” Karya Aang Fatihul Islam
Anjrah Lelono Broto *
Berat rasanya untuk tidak menuliskan catatan tentang buku kumpulan cerpen (kumcer) karya Aang Fatihul Islam ini. Rasa berat itu tidak semata karena sederet kesibukan pribadi saya yang kian mengurangi kesempatan saya untuk duduk sejenak di depan alat tulis. Bukan! Bukan semata karena hal itu. Tentu saja, alasan utama mengemukanya rasa berat tersebut adalah “isi” buku kumcer ini sendiri. Tentang kesibukan saya tersebut sangat patut kiranya untuk dipinggirkan mengingat sebenarnya sungguh tak berarti dibanding dengan isi buku kumcer ini yang menggambarkan kebulatan “pencarian” seorang Aang Fatihul Islam.
Berat rasanya untuk tidak menuliskan catatan tentang buku kumpulan cerpen (kumcer) karya Aang Fatihul Islam ini. Rasa berat itu tidak semata karena sederet kesibukan pribadi saya yang kian mengurangi kesempatan saya untuk duduk sejenak di depan alat tulis. Bukan! Bukan semata karena hal itu. Tentu saja, alasan utama mengemukanya rasa berat tersebut adalah “isi” buku kumcer ini sendiri. Tentang kesibukan saya tersebut sangat patut kiranya untuk dipinggirkan mengingat sebenarnya sungguh tak berarti dibanding dengan isi buku kumcer ini yang menggambarkan kebulatan “pencarian” seorang Aang Fatihul Islam.
OH.. TERNYATA ADA!
Ahmad Anshori
Ungkapan ini saya yakin sudah ada sejak zaman dahulu kala,misalnya ketika manusia purba menemukan api dari gesekan batu-batu (setidaknya itu yang saya ketahui dari film-film). Mewakili perasaan yang timbul karena sebuah penemuan dalam pikiran seorang manusia. Segala hal, saya yakini memang sudah digariskan oleh Tuhan dari awal, ada atau tidak adanya. Hanya saja pikiran manusia melalui alat penginderaannya belum mengungkap hal-hal tersebut. Itulah mengapa saya katakan penemuan terjadi didalam pikiran manusia. Ungkapan seperti itu muncul dalam pikiran saya kemarin sore.
Ungkapan ini saya yakin sudah ada sejak zaman dahulu kala,misalnya ketika manusia purba menemukan api dari gesekan batu-batu (setidaknya itu yang saya ketahui dari film-film). Mewakili perasaan yang timbul karena sebuah penemuan dalam pikiran seorang manusia. Segala hal, saya yakini memang sudah digariskan oleh Tuhan dari awal, ada atau tidak adanya. Hanya saja pikiran manusia melalui alat penginderaannya belum mengungkap hal-hal tersebut. Itulah mengapa saya katakan penemuan terjadi didalam pikiran manusia. Ungkapan seperti itu muncul dalam pikiran saya kemarin sore.
Membaca Ludruk Dalam Sepilihan Sajak
Anjrah Lelono Broto *
Menikmati produk seni pertunjukkan, sejatinya, merupakan kegiatan bersifat reseptif; penerimaan pesan-pesan yang disampaikan melalui bahasa lisan, audio-visual, serta berlangsung dalam momentum tertentu. Namun, produk seni pertunjukkan yang berikut ini tidak akan menggunakan piranti auditif untuk menyampaikan isi, bahkan sampiran, yang terperam di rahimnya. Adalah produk seni pertunjukkan Ludruk dan Sajak yang kali ini terpintal-tertenun-terjahit dalam selembar buku yang berjudul “LUDRUK KEDUA”. Adalah seorang Dadang Ari Murtono pulalah yang menjadi aktor intelektual di balik peristiwa kreatif tersebut. Tentang Ludruk itu sendiri, tentang Dadang Ari Murtono yang masih betah menyendiri, tentu akan berpanjang lebar pula dalam tulisan tersendiri. Di kali kesempatan ini, biarlah buku “LUDRUK KEDUA, Sepilihan Sajak” sendiri yang kita perbincangkan.
Menikmati produk seni pertunjukkan, sejatinya, merupakan kegiatan bersifat reseptif; penerimaan pesan-pesan yang disampaikan melalui bahasa lisan, audio-visual, serta berlangsung dalam momentum tertentu. Namun, produk seni pertunjukkan yang berikut ini tidak akan menggunakan piranti auditif untuk menyampaikan isi, bahkan sampiran, yang terperam di rahimnya. Adalah produk seni pertunjukkan Ludruk dan Sajak yang kali ini terpintal-tertenun-terjahit dalam selembar buku yang berjudul “LUDRUK KEDUA”. Adalah seorang Dadang Ari Murtono pulalah yang menjadi aktor intelektual di balik peristiwa kreatif tersebut. Tentang Ludruk itu sendiri, tentang Dadang Ari Murtono yang masih betah menyendiri, tentu akan berpanjang lebar pula dalam tulisan tersendiri. Di kali kesempatan ini, biarlah buku “LUDRUK KEDUA, Sepilihan Sajak” sendiri yang kita perbincangkan.
Geliat Warung Sastra di Kota Santri
(Catatan Diskusi Selasastra#5 di Boenga Ketjil Jombang)
Aditya Ardi N *
Warung Boenga Ketjil merupakan sebuah Warung milik Andhi Setyo Wibowo yang akrab disapa Kephix, seorang aktor gaek dan Teatrawan Jombang yang sudah malang melintang di dunia Teater Indonesia. Di bidang Seni dan Budaya Cita-citanya sangat mulia, ia Sering menggelar Pentas Keliling (biasanya monolog) ke berbagai kota bersama Rekannya di Komunitas Suket Indonesia, meski tak jarang harus merogoh kocek dalam-dalam sebab harus membiayai sendiri perjalanan kreatifnya. Kephix memang bukan satu-satunya ‘Tentara kebudayaan’ yang ada di negri ini, tetapi untuk wilayah jawa Timur khususnya Jombang, kegilaan dan militansinya tak perlu diragukan lagi.
Aditya Ardi N *
Warung Boenga Ketjil merupakan sebuah Warung milik Andhi Setyo Wibowo yang akrab disapa Kephix, seorang aktor gaek dan Teatrawan Jombang yang sudah malang melintang di dunia Teater Indonesia. Di bidang Seni dan Budaya Cita-citanya sangat mulia, ia Sering menggelar Pentas Keliling (biasanya monolog) ke berbagai kota bersama Rekannya di Komunitas Suket Indonesia, meski tak jarang harus merogoh kocek dalam-dalam sebab harus membiayai sendiri perjalanan kreatifnya. Kephix memang bukan satu-satunya ‘Tentara kebudayaan’ yang ada di negri ini, tetapi untuk wilayah jawa Timur khususnya Jombang, kegilaan dan militansinya tak perlu diragukan lagi.
Minggu, 25 Februari 2018
Geliat SelaSastra dan Catatan Kreatif
Akhmad Fatoni
Perjalanan
seorang pengarang adalah perjalanan spiritual. Begitulah kiranya setiap
perjalanan akan membawa efek kontemplatif yang begitu mengejutkan. Itulah
kenapa saya selalu menyukai sebuah perjalanan. Sebagai wujud terimakasih saya
pada sebuah perjalanan yang semakin mematangkan pola pikir, catatan perjalanan
kerap hadir menyertai. Begitu juga tulisan ini yang hadir untuk
mencatat-rekamkan ruang, waktu, dan peristiwa dari perjalanan (atau saat ini
saya sedang gandrung menyebut dinas luar).
FOLKLOR, SEJARAH LISAN, DAN REKONSTRUKSI SEJARAH *
Dian Sukarno **
Bismillah alhamdulillah saya mendapat undangan istimewa untuk bertemu anak-anak muda yang melampaui zamannya. Saya katakan demikian, karena kebesaran Nusantara telah memanggil anak-anaknya untuk menampakkan wujud aslinya sebagai mercusuar dunia. Penduduk surgawi sebagaimana dikatakan oleh Syech Ahmad Saltut, seorang ulama Mesir yang berkunjung di era Presiden Soekarno, yang memapar dalam ungkapan penuh takjub; Indonesia adalah sekeping tanah surga yang diturunkan Tuhan ke dunia. Celetuk kekaguman itu bukanlah tanpa alasan, mengingat hamparan bumi, luasan langit, bentangan peristiwa, hingga plasmanutfah atau kekayaan alamnya menjadi yang terpenting bagi kelangsungan seluruh makhluk di permukaan bumi. Maka, tidak mengherankan jika Nusantara menjadi ajang perseteruan abadi para perompak berbaju modern, mulai bangsa Eropa, Amerika, hingga jazirah padang savana Mongol yang menginginkan Nusantara tunduk di hadapan duli tuannya.
Bismillah alhamdulillah saya mendapat undangan istimewa untuk bertemu anak-anak muda yang melampaui zamannya. Saya katakan demikian, karena kebesaran Nusantara telah memanggil anak-anaknya untuk menampakkan wujud aslinya sebagai mercusuar dunia. Penduduk surgawi sebagaimana dikatakan oleh Syech Ahmad Saltut, seorang ulama Mesir yang berkunjung di era Presiden Soekarno, yang memapar dalam ungkapan penuh takjub; Indonesia adalah sekeping tanah surga yang diturunkan Tuhan ke dunia. Celetuk kekaguman itu bukanlah tanpa alasan, mengingat hamparan bumi, luasan langit, bentangan peristiwa, hingga plasmanutfah atau kekayaan alamnya menjadi yang terpenting bagi kelangsungan seluruh makhluk di permukaan bumi. Maka, tidak mengherankan jika Nusantara menjadi ajang perseteruan abadi para perompak berbaju modern, mulai bangsa Eropa, Amerika, hingga jazirah padang savana Mongol yang menginginkan Nusantara tunduk di hadapan duli tuannya.
Usaha Mencintai Hujan; Usaha Mencintaimu
Khoshshol
Fairuz *
“Sungguh aku mencintaimu hujan, meski kemarau tlah
mengubur kenangan, aku ingin memelukmu sederas hujan hari ini.” Satu
paragraf dari saduran puisi dengan judul yang sama mengawali buku sekumpulan 95
puisi R. Giryadi ini menggambarkan seluruh isinya, seolah penyair ini ingin
mengatakan, hujan adalah hidupku. Tapi dicekal makna dan mengalami penyempitan,
maka cukuplah Usaha (untuk) Mencintai Hujan.
Langganan:
Postingan (Atom)
