Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2020

Rabu, 07 Maret 2018

USAHA MENCINTAI HUJAN RAHMAT GIRYADI

; refleksi SelaSastra #11
Khoshshol Fairuz *

Tidak banyak orang mengerti tentang dunia perpuisian, termasuk saya yang waktu itu secara sepihak ditugasi menjadi moderator dalam bincang buku terbaru Rakhmat Giryadi atau lebih akrab dipanggil Lik Gir: Usaha Mencintai Hujan. Hanya karena rasa pengin tahu yang besar, saya manut saja dan berangkat menuju Boenga Ketjil milik Mas Andhi Kepix. Sesuai namanya, SelaSastra juga dilaksanakan pada hari selasa (6/12/2016). Hadir dalam bincang sastra sang pengulas Mas Anjrah Lelono Broto yang sudah dahulu menempati lesehan, para pegiat sastra Jombang dan penyair-penyair Mojokerto. Acara dimulai pukul 20:00 diawali dengan engkel-engkelan soal siapa dulu yang membuka, dan secara simbolik Mas Andhi Kepix menyampaikan pembukaan dengan mengucapkan salam dilanjutkan dengan penyatuan persepsi ala saya.

Sastra dan Kesesatan

(SelaSAstra #1)

Membincang Sastra dan Kesesatan semalam (Selasa 26 Januari 2016) di Warung Boenga Ketjil kediaman Andhi Setyo Wibowo ibarat mengulas Laut dan Gelombang. Presisi batasan yang tepat tidak ditemukan dalam satu ruas, sebab Sastra bersifat benda riel sedang Ke-sesat-an adalah gelembung sifat yang diakibatkan/dihasilkan oleh debur luasnya samudera.

Andy Sri Wahyudi, Puisi dan Pantomim

Boenga Ketjil, 16 April 2016

Sebenarnya aku belum pernah melihat pementasan pantomim secara utuh apalagi secara live. Dan malam ini ada undangan buat diskusi sastra dengan nara sumber Kang Andy Sri Wahyudi yang pantomimer dari Yogjakarta. Berdasarkan info yang aku dapat,  Kang Andy mau adakan pementasan mini di Boenga Ketjil. Ini yang membuat aku begitu semangat buat hadir di markas Kang Kepik. Nonton pementasan pantomim. Live!!!

Sabtu, 03 Maret 2018

SASTRA, SEBUAH TAMAN BUNGA


Ahmad Anshori *

“Urusan yang coba kutuntaskan, melalui kekuatan kata-kata, adalah membuatmu mendengar, membuatmu merasakan—dan yang utama adalah membuat matamu terbuka. Begitulah, tidak lebih.” – Joseph Conrad (1857-1924)

Pernyataan dari salah satu penulis terbaik Britania ini yang barangkali akan sedikit mewakili apa yang terjadi dalam diskusi budaya Selasatra #14 yang bertajuk “sastra dan realita sosial” pada Rabu (15/2/17) malam lalu di warung Boenga Ketjil, Parimono Jombang.

SelaSastra? Mari Kita Nikmati Saja *


Inung As

Setiap satu minggu kita bisa temui Sabtu kemudian berganti Minggu pada hari berikutnya lalu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan berulang Sabtu lagi dan berulang.Hanya tujuh hari itu dalam satu minggu.Kamis malam akrab kita kenal sebagai malam Jum’at.Sabtu malam sering disebut malam Minggu.Malam yang panjang, kata orang.

SelaSAstra: Teknik Menulis dan Kerancuan-Kerancuan Lainnya


Mansur Muhammad

"Saya menulis dan, memang harus menulis. Setiap hari. Soal isi, pikir nanti. Apalagi teknik." seloroh Pak Cucuk SP selaku pembicara dalam acara SelaSAstra tadi malam. Acara sederhana yang cukup unik ini diselenggarakan di kedai Boenga Ketjil milik Pak Andhi. Ruang berdesain nyentrik ini membuat nyaman siapa saja yang hadir. Entah sekedar ngobrol atau diskusi --semi resmi, seperti yang terjadi tadi malam. Banyak kalangan penulis dan penikmat sastra dari berbagai komunitas hadir di sana.

Minggu, 25 Februari 2018

Basa Jawa Napak ing Mangsa Sandyakala?


Jati Utami

Obrolan ngeneki sastra basa jawa nang Warung Boenga Ketjil sore iku tambah bengi tambah rame ae. Di wiwiti maca cerkak “ Mak, Sayak lan Hem Kotak-kotak” karangane Anjrah Lelono Broto dening Andhi Setyo Wibowo ( Cak Kephix ) , omong-omongan terus mili saut-sautan teka kanca-kanca sing macem-macem penggaweane. Ana pelakon nang kasusastran ambek seni budaya, uga ana sing seneng nggatekna nang mati uripe basa Jawa.

Antara Sastrawan dan Kritikus Sastra

Candra Adikara Irawan

“Jurnalisme Diam Sastra Bicara” (Seno Gumira Ajidarma)

Sehabis magrib, lampu padam. Ublik-ublik kecil menyala di atas meja-meja, membingkai lukisan-lukisan yang terpampang di dinding, hingga kami menikmati menunggu dengan saling bercakap di keremangan. Tak berapa lama, lampu menyala dan Mas Andhi Setyo Wibowo berkabar bahwa Pak Lik Rakhmat Giryadi sudah datang. Dimulailah, Selasastra #5 di Boenga Ketjil, membahas tentang kumpulan cerpen Pak Lik Giryadi yang berjudul “Mengenang Kota yang Hilang”.